Minggu, 20 September 2015

Cerpen Horor



Pintu Ke-Seribu Lawang Sewu
Cerpen Rahaminta Bee

“Sekali saja kau melihat sosoknya dalam pantulan cermin, tidak akan ada lagi yang dapat melihat sosokmu”


Lawang sewu, gedung tua yang berada di pusat Kota Semarang. Salah satu gedung yang disebut-sebut paling angker di Kota Semarang bahkan di Indonesia. Meskipun terletak di pusat kota yang padat dan ramai, keadaan gedung yang kuno, gelap, kosong dan tak lagi digunakan secara operasional menunjang anggapan masyarakat mengenai keangkeran gedung ini. Namun bagiku yang telah mengamati dan mengagumi gedung ini sejak dulu, Lawang Sewu tidak lebih dari gedung megah dengan seni arsitekstur yang klasik, indah dan bersejarah.
Banyak rumor beredar seputar keangkeran gedung yang dibangun lebih dari satu abad yang lalu ini. Penampakan pocong, kuntilanak, genderuwo, dan yang paling terkenal adalah penampakan arwah noni-noni Belanda pernah dialami oleh orang-orang yang tidak sengaja melihatnya. Begitulah setidaknya anggapan orang-orang yang mengaku melihat langsung penampakan-penampakan yang terjadi. Aku tertawa saja mendengarnya.
Ada apa dengan arwah noni-noni Belanda di Lawang Sewu? Menurut, lagi-lagi yang disebut rumor, beredar kabar sering terjadi penampakan arwah noni-noni Belanda di koridor atau di bekas ruang dansa dalam gedung Lawang Sewu. Mereka sering menampakan diri di malam hari, menjinjing kepalanya yang terpenggal, menampakan wajah pucat berlumuran darah, rambut terurai panjang terseret hingga menyentuh lantai, tersenyum dengan seringai sinis, sungguh senyuman yang paling jelek dan mengerikan.
Lagi-lagi aku tertawa. Maksudku, bukan berarti aku meragukan penglihatan masyarakat yang mengaku menyaksikan sendiri penampakan mengerikan itu. Namun sebagai seorang gadis yang berdarah Belanda, aku tidak terima jika senyuman gadis-gadis bangsa kami disebut jelek dan mengerikan. Ayolah, kau tentu sependapat denganku, kan? Lihat saja artis-artis ibukota yang setidaknya memiliki setengah darah Belanda, atau kita lebih sering menyebutnya artis blasteran Indo, begitu laris manis di kancah hiburan negeri ini karena memang memiliki kecantikan yang menawan dengan khasnya sendiri. Kesimpulannya, kurasa masyarakat terlalu mengada-ada dan berlebihan dalam menggambarkan penampakan noni Belanda yang mereka lihat.
*
Arwah para noni Belanda yang disebut-sebut sering tampak gentayangan di Lawang Sewu diyakini merupakan arwah korban kekejaman tentara Jepang di era penjajahan Jepang atas Indonesia. Tentara Jepang ini masuk menyerbu gedung yang sebelumnya merupakan kantor perkereta-apian yang dikelola pemerintah kolonial Belanda dan menjadikan gedung ini sebagai basis kekuasaan mereka. Kala itu, gedung ini juga dijadikan oleh tentara Jepang sebagai tempat eksekusi tentara Belanda maupun pejuang Indonesia. Pada masa itu pula, gedung ini menjadi saksi betapa kejamnya perbuatan dilakukan tentara Jepang terhadap noni-noni Belanda. Tentara Jepang melakukan pemerkosaan secara brutal terhadap para noni Belanda dan setelah puas menyalurkan hasratnya, para tentara Jepang memenggal kepala noni tersebut. Begitu yang sering kudengar dari penjelasan para tour guide yang memandu para wisatawan mengunjungi gedung ini setelah gedung Lawang Sewu dibuka secara umum sebagai objek wisata Kota Semarang. Kali ini aku tidak tertawa, aku selalu merasa begitu miris setiap mendengar cerita bagian ini.
*
Tanggapan mengenai rumor keangkeran Lawang Sewu rupanya tidak sama bagi semua orang. Banyak orang yang merasa ketakutan dengan rumor-rumor keangkeran Lawang Sewu, tapi ada juga beberapa yang menanggapinya hanya dengan tertawa seperti aku. Dia adalah Bella, gadis dengan nama yang cantik untuk ukuran kaum pribumi. Maaf jika aku menyebutnya dengan kurang hormat. Sejak kecil aku tidak dibiasakan untuk menyukai ataupun bertoleransi dengan penduduk asli Nusantara. Well, aku memang terlahir dan dibesarkan di negeri ini. Namun, berasal dari keluarga keturunan Belanda yang kolot membuatku terkadang masih mempertahankan kekolotan yang orangtuaku turunkan padaku. Orangtuaku hanya mengijinkan dan membiasakan aku bergaul serta bersekolah di sekolah-sekolah khusus untuk kalangan elit kami, tentunya kalangan yang terdiri orang-orang dari bangsa kami sendiri atau bangsa Eropa lain yang tinggal di negeri ini. Jadi maklum saja, walaupun sekarang orang lain mengatakan jaman telah berubah atau Indonesia telah lama merdeka, bagiku memiliki darah Belanda tetap masih jauh lebih bernilai dan elit dibanding mereka kaum pribumi.
Aku yang tumbuh menjadi seorang yang bisa dibilang memiliki sifat sangat sovinis, hampir tidak pernah memberi penilaian positif atau pujian pada mereka yang kusebut kaum pribumi. Tapi kali ini, khusus untuk kali ini saja, kuakui Bella memang cukup cantik untuk menyandang nama yang memiliki arti kata cantik tersebut, nama panggilan yang sama sebagaimana aku disapa dari namaku, Bellatrice.
Bella adalah satu-satunya gadis dari kaum pribumi, yang tidak pernah sekalipun terlintas dalam benakku, akan memberikan pengaruh yang begitu besar dalam kehidupanku sekarang. Dengan mengesampingkan keangkuhan dan rasa ketidaksukaanku padanya, kuakui dia memiliki wajah yang begitu menarik dan mempesona. Kesan pertama yang kulihat dari penampilannya adalah gadis dinamis yang penuh rasa percaya diri. Gadis pribumi berpendidikan, yang di masa penjajahan kolonial Belanda dulu tentu sulit untuk ditemukan. Gadis sombong berasal dari keluarga dengan status sosial yang cukup tinggi yang selalu memanjakannya, yang menjadikannya arogan karena terbiasa selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Kenyataannya tebakanku tepat. Entah bagaimana, aku dapat menilainya secara tepat karena aku merasa dia memiliki banyak kemiripan denganku. Bagiku, karakternya itu tidaklah sulit untuk ditiru atau diperankan.
Bella adalah tipikal gadis yang tidak kusuka, tapi aku cukup beruntung bertemu dengannya satu tahun yang lalu. Waktu itu, dia bersama delapan teman perempuannya, yang sekarang tentunya menjadi koleksi teman-teman pribumiku, mengunjungi gedung Lawang Sewu dengan penuh keberanian. Aku masih ingat waktu pertama kali gadis-gadis ini mendatangi Lawang Sewu dengan penuh semangat dan rasa penasaran. Nampaknya mereka adalah kumpulan mahasiswi baru yang bukan merupakan warga asli Semarang dan baru pertama kali mengunjungi Lawang Sewu. Gadis-gadis ini tampaknya telah mendengar rumor-rumor keangkeran Lawang Sewu dan penasaran ingin membuktikannya sendiri. Hal ini terlihat dari keberanian mereka memilih mengunjungi Lawang Sewu yang terbuka untuk umum selama dua puluh empat jam non-stop justru pada malam hari.
Waktu itu, pukul sebelas malam mereka memulai perjalanan wisata mengelilingi gedung dipandu oleh Aldo, tour guide termuda dan paling tampan di antara yang lainnya. Meskipun Aldo jauh lebih muda dariku, perbedaan usia tidak membuat pesonanya berkurang sehingga aku berhenti untuk menyukainya. Ya, sudah sejak lama aku naksir pada Aldo. Itulah sebabnya, aku selalu berusaha meluangkan waktuku untuk mendampingi Aldo ketika melakukan tugas sebagai tour guide, terutama di malam hari. Aku begitu senang karena seakan perasaanku terbalas, Aldo tidak pernah mengatakan bosan atau keberatan untuk selalu kudampingi.
Seperti biasanya, sebelum memulai perjalanan, Aldo akan menjelaskan peraturan standar selama di dalam gedung seperti senantiasa bersama, menjaga sikap, bergandengan tangan dan berdoa. Aldo juga menjelaskan tiga larangan yang tidak boleh dilanggar selama di dalam gedung. Gadis-gadis ini tampak terdiam dan mendengarkan dengan seksama. Yah, seperti halnya denganku, gadis-gadis ini merasa larangan tidak boleh melakukan sesuatu memang lebih menarik dibanding anjuran untuk melakukan sesuatu.
“Pertama,” Aldo mulai menyebutkan larangan pertama dengan suara lirih dan nada penuh misteri, “tidak boleh bugil.” Gadis-gadis itu sontak tertawa, begitu juga denganku. Aku selalu suka dengan cara Aldo menyebutkan larangan-larangan ini.
“Aih, siapa juga yang mau bugil di sini,” komentar Bella dengan sinis. Sungguh, aku tidak suka cara bicara makhluk ini di depan Aldo-ku. Cih.
“Baik kita lanjut ke larangan kedua,” Aldo melanjutkan. “Tidak boleh melakukan seks di sini.” Gadis-gadis ini makin tertawa keras.
“Hah, ada-ada saja. Apa ada orang bodoh yang mau melakukannya di tempat semacam ini?” komentar sinis Bella lagi. Aku semakin kesal dengan cara bicaranya pada Aldo. Aldo hanya diam saja menunggu gadis-gadis ini berhenti tertawa untuk melanjutkan larangan ketiga.
“Oke, apa larangan ketiga? Striptease?” ejek Bella dengan nada mencemooh disambut tawa teman-temannya.
“Lancangnya kau!” teriakku. Aku benar-benar kesal pada gadis lancang ini. Aldo diam saja, hanya tersenyum manis, menunggu suasana tenang untuk menyampaikan larangan yang ketiga.
“Hmm, sebenarnya itu juga dilarang, tapi kurasa itu sudah termasuk dari larangan pertama. Bukan itu yang kumaksud.” Aldo melanjutkan, “Larangan ketiga hanya dilarang untuk dilakukan di malam hari seperti sekarang ini. Larangan ketiga adalah...” Gadis-gadis itu kini terdiam, mendengar dengan penasaran.
“Tidak boleh melihat ke dalam cermin.” kataku dan Aldo secara serempak. Aku sudah hafal benar dengan kalimat Aldo ini. Dapat mengucapkannya bersamaan seperti ini selalu mendatangkan kepuasan bagi diriku.
“Kenapa? Kenapa?” Gadis-gadis itu bertanya dengan penuh rasa penasaran.
“Dari tiga larangan tadi, cuma yang ketiga yang membuat kalian ingin tahu alasannya? Kalian tidak penasaran kenapa tidak boleh bugil atau melakukan seks di sini?” goda Aldo. Ah, senyuman Aldo begitu manis.
“Alih-alih menjawab pertanyaan malah mengalihkan pembicaraan. Memang karena tidak beralasan kan? Karena kau hanya mengarang larangan-larangan konyol tadi.” Komentar pedas Bella memecah lamunanku akan manisnya senyuman Aldo.
Mataku terbelalak. Kurang ajar sekali gadis sombong ini! Rasanya hampir saja aku ingin mengosongkan tanganku, melemparkan apa yang kubawa sejak tadi ke wajahnya dan mencengkeramkan jari-jariku ke leher gadis sombong ini, mencekiknya tanpa ampun. Namun seolah ingin menghentikanku, Aldo buru-buru menjelaskan, “Karena sekali saja kau melihat sosoknya dalam pantulan cermin, tidak akan ada lagi yang dapat melihat sosokmu.” Semua orang terdiam. Aku dapat melihat gadis-gadis ini sedikit merinding mendengar alasan yang disampaikan Aldo.
Suasana masih senyap. Berbekal satu lampu senter, Aldo mulai mengajak rombongan ini berkeliling melintasi koridor dan ruangan yang hanya memiliki penerangan remang-remang. Sesekali Aldo berhenti dan menjelaskan tempat-tempat yang dilewati, menceritakan sejarah dan kisah yang berhubungan dengan setiap ruang yang ada. Aku mendengarkan penjelasan Aldo dengan seksama. Gadis-gadis ini hanya berdiri berdempet-dempetan, saling bergandengan lengan, benar-benar tak bernyali, kecuali Bella. Entah apa yang dipikirkannya, tapi yang kulihat tampaknya dia tidak percaya pada hal-hal yang berbau mistis atau angker. Sesekali dia melontarkan pertanyaan yang menyudutkan Aldo, bahwa yang dikatakan Aldo hanyalah bualan. “Biarkan saja gadis sombong ini,” bisikku pada Aldo.
Aldo kembali memandu perjalanan ke ruangan yang lain. Sesekali kami berpapasan dengan rombongan pengunjung lain yang dipandu tour guide yang lain. Sesekali aku bertemu dengan teman-temanku, menanggapi godaan mereka yang menertawakan aku yang terus mengekor Aldo.
“Apa benar pintu di gedung ini mencapai seribu pintu, sampai-sampai gedung ini dinamai Lawang Sewu?” Bella bertanya pada Aldo dengan nada menantang, menguji apa kira-kira bualan Aldo selanjutnya.
Aldo menjelaskan. “Masyarakat setempat menyebut bangunan ini Lawang Sewu yang memiliki arti Seribu Pintu memang karena bangunan ini memiliki pintu yang sangat banyak.” Aldo menunjuk pintu-pintu dengan sorot lampu senter sembari melanjutkan penjelasannya. “Namun kenyataannya, dari berbagai pengalaman para wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang mencoba menghitung jumlah pintu selalu tidak akan menemukan jumlah sampai seribu pintu atau seribu lawang.”
“Tentunya karena mereka tidak bisa menghitung pintu yang tidak bisa mereka lihat,” tambahku lirih. “Pintu satu arah yang tidak akan mengijinkan siapapun kembali,” ucapku pada diri sendiri. Tidak ada yang menggubris ucapanku. Aldo mengajak rombongan menelusuri ruang yang lainnya.
Rombongan kami yang dipandu Aldo akhirnya sampai di ruangan kosong yang begitu luas. Aldo menjelaskan bahwa ruang ini dulu digunakan sebagai ruang dansa para bangsawan dan pejabat Belanda. Aku menutup mataku. Aku bisa membayangkan sebuah ball room yang dulu begitu megah dan indah, dipenuhi semerbak wangi aroma parfum para bangsawan bercampur aroma asap cerutu yang khas, teralun bunyi instrumen musik klasik untuk iringan berdansa yang dimainkan para pemusik dari sudut ruangan, terdengar tawa cekikikan gadis-gadis Belanda bergaun mewah mendengarkan candaan ala bangsawan sambil menikmati segelas rum merah. Kini ruang dansa telah berubah menjadi ruangan kosong, gelap dan berdebu. Tidak ada lagi perabotan-perabotan mewah yang dulu tertata rapi di dalamnya. Hanya tertinggal sebuah cermin antik berfigura kayu jati berukir yang tergantung di salah satu sisi dinding bagian tengah.
“Silahkan kalau ingin melihat-lihat dulu.” Suara Aldo terdengar menggema di ruang ini. Pandangan gadis-gadis ini tertuju pada cermin yang menggantung di dinding. Cermin tersebut tampak mencolok dengan ukuran setinggi orang dewasa dan lebar kurang lebih satu meter. Sebuah cermin antik yang entah kanapa terlihat sangat serasi menggantung di salah satu sisi dinding ruang dansa gedung Lawang Sewu ini.
“Itu cermin yang tidak boleh dilihat? Mana? Kita semua melihatnya, terjadi sesuatu?” tanya Bella dengan sinis.
“Kalau melihat cermin saja tidak masalah, tapi tidak untuk bercermin. Kau tentu tahu kan perbedaan antara melihat cermin dan bercermin?” jawab Aldo santai.
Bisa kulihat Bella tidak puas dengan jawaban Aldo. Bella memiliki kesamaan karakter denganku, dari persamaan sifat kami, aku langsung tahu dengan jelas bahwa Bella justru merasa tertantang untuk bercermin ketika dilarang.
Perlahan, ketika perhatian Aldo sedang teralih untuk membantu rombongan gadis-gadis itu sibuk berfoto ria, Bella menjauhi rombongan, mendekat ke arah cermin dan berdiri menghadap ke arah cermin. Aldo yang melihatnya segera berteriak melarang Bella, tapi terlambat. Bella terlalu jauh untuk dihentikan.
Tiba-tiba saja Lawang Sewu gelap total. Gadis-gadis ini berteriak histeris saling merapat. Terdengar pula teriakan para pengunjung yang sedang berkeliling dari berbagai sisi gedung yang lain. Aldo berusaha menenangkan gadis-gadis yang histeris di sampingnya. Aldo mencoba mengotak-atik senternya yang tiba-tiba secara misterius juga tidak dapat dinyalakan.
Di tengah ball room, tidak terdengar apapun. Bella tampak berdiri syok tak bersuara. Aku berada di sampingnya. Sebelum seluruh lampu padam, ia sempat melihat pantulan bayangan paling mengerikan yang pernah ia saksikan dari dalam cermin. Pemandangan yang paling ia sesali untuk dilihat. Pemandangan paling mengerikan sesuai dengan rumor yang beredar di antara masyarakat. Pantulan bayangan sosok perempuan tanpa kepala dengan lumuran darah di sekitar leher dan gaun putihnya. Sosok tersebut mendekap kepalanya yang putus dengan kedua tangannya di depan perut. Kepala tersebut berambut pirang tergerai panjang hingga menyentuh lantai, dengan wajah putih pucat dan mata gelap menatap tajam tanpa ekspresi. Wajah tanpa ekspresi tersebut mendadak berubah menjadi senyuman sinis, senyuman paling mengerikan, dengan seringai tajam, menarik kedua ujung bibir menyipit membelah pipi mencapai telinga. Bella terjatuh pingsan.
Beberapa saat kemudian, para petugas di Lawang Sewu berhasil menyalakan penerangan di seluruh area gedung. Secara misterius pula senter Aldo kembali menyala. Gadis-gadis itu berkerumun, berlari mendekatiku dengan penuh cemas dan ketakutan, menghujaniku dengan banyak pertanyaan. “Bella, kau tak apa-apa?! Sedang apa sih?! Kenapa memisahkan diri? Jangan jauh-jauh dari rombongan!” 
Aldo meraih tanganku untuk pertama kalinya, membantuku bangun dari posisi dudukku. Kukatakan pada teman-teman baruku itu, “Aku baik-baik saja. Ayo kita lanjutkan perjalanan.” Kuberikan senyuman terbaikku pada Aldo yang masih menggenggam tanganku. 
Kami beranjak meninggalkan ruangan. Sebelum benar-benar meninggalkan ball room, aku sempatkan melihat cermin antik berfigura ukiran kayu jati tadi. Dari balik pantulan cermin dapat kulihat sosok bayangan terjebak, meronta meminta tolong, berteriak histeris, menangis tak terkendali namun tidak ada yang mendengarnya. Kukatakan padanya dengan sinis, “Apa kau tidak menyimak? Sekali saja kau melihat sosokku dalam pantulan cermin, tidak akan ada lagi yang dapat melihat sosokmu.” Aku berlalu meninggalkan ball room dengan tubuh baruku yang utuh.

~ Karanganyar, Desember 2013 ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar