Trap of Love
Cerpen
Rahaminta Bee
Menyoroti
liang lahir pasien dengan lampu senter adalah tindakan bodoh. Melakukannya di
depan orang yang kau suka adalah tindakan
super duper hiper bodoh!
Huwaa…!!!
*
Namaku adalah Raisa. Aku bekerja sebagai seorang perawat di bangsal
bedah salah satu Rumah Sakit ternama
di pusat Ibukota. Bicara soal
profesiku, sejujurnya,
menurutku menjadi seorang perawat itu enak-enak-nggak.
Enaknya, waktu pulang ke kampung halaman, yang notabene-nya kampung nun jauh di
pelosok pesisir yang bahkan nggak pernah dan mungkin nggak akan pernah tergambar
dalam google map, aku
akan disambut seluruh warga kampung dan dielu-elukan sebagai mantri paling top
sedunia dan paling tahu segalanya. Bayangkan, aku hanya mengukur tekanan darah
alias nensi saja, warga kampung akan melihatku dengan
tatapan kagum berbinar-binar.
Bahkan, tak jarang
beberapa dari mereka sampai
menitihkan air mata penuh haru!
Behh… (Oke, bagian yang terakhir memang lebay. So, abaikan!)
Nah, salah satu bagian yang nggak enak dari profesiku adalah
ketika bekerja di rumah sakit. Bayangkan, warna seragam perawat di rumah sakit
rata-rata melulu itu-itu saja. Seragam berwarna putih, pink rose, yellow glow, purple maple, pokoknya
warna-warna soft yang monoton itu-itu
saja.
Jujur, sebenarnya aku pribadi sangat ingin seragam perawat itu sekali-kali berwarna
hitam gelap. Syukur-syukur pakai name tag-nya yang glow in the dark gitu. Pasti bakal keren. Kenapa?
Karena warna-warna semacam pink rose,
yellow glow, purple maple sama sekali nggak
maskulin. Eh, aku belum bilang, ya? Aku ini laki-laki lho. Kalian nggak salah persepsi, kan?
Hah… Memang begini
sedihnya, menjadi kaum minoritas di profesi yang sangat mulia ini. Sekeras
apapun usaha diri ini berjuang untuk membuktikan bahwa berjati diri heavy metal1, tetap saja
orang mempersepsikan diri ini berjiwa heavy rotation2.
Oke, biar kuperjelas, namaku adalah Joko
Raisanto, aku adalah perawat
dan plis, jangan panggil aku suster
karena aku cowo tulen.
![]() |
| Heavy Metal |
![]() |
| Heavy Rotation |
*
Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku bekerja
di salah satu rumah
sakit ternama di Ibukota.
Itu artinya, aku bekerja di lingkungan yang menuntut tenaga pekerjanya harus, atau
senggaknya selangkah lebih maju dibanding tenaga di daerah. Alhasil, aku yang
sebelumnya hanya lulusan diploma keperawatan, akhirnya harus meng-upgrade diri dengan pendidikan yang
lebih tinggi, yaitu program Sarjana Keperawatan dan melanjutkan program pendidikan Profesi Ners. Yup, Ners bukan Nurse. Kau boleh memeriksanya dalam KBBI kalau nggak percaya.
Kita lewatkan
saja pembahasan tentang masa
pendidikan sarjana, nggak menarik.
Membahas sulitnya mengerjakan skripsi sambil bekerja di rumah sakit hanya akan membuat
dada nyeseg lagi. Tapi syukurlah, itu
sudah berlalu. Sekarang ini, aku sedang menjalani fase terakhir program Profesi
Ners di salah satu perguruan tinggi swasta yang berlokasi di dekat rumah sakit tempatku bekerja. Emm,
bagi yang belum tahu
apa itu program Profesi Ners, begini penjelasan singkatnya: Program Profesi Ners adalah
semacam program koas di kedokteran. Yang intinya, selama satu tahun penuh, calon Ners harus
menjalani praktik pendidikan di rumah sakit, dan nantinya setelah lulus akan
bergelar Ners (kayak penulis manis yang bikin cerpen ini lho... Cieee... kekeke...)
Sekarang
bayangkan, aku yang juga berstatus sebagai
karyawan di rumah sakit, kini harus merangkap pula
dengan kegiatan praktik program Profesi Ners. Berat banget kan? Ahaha, lebay… Sebenarnya nggak berat-berat amat kok.
Apa sih yang berat bagi mahasiswa yang
hampir seumuran dengan dosen dan pembimbing kliniknya,
apalagi yang kebanyakan juga merupakan teman sendiri. Aku hanya perlu menerapkan
tehnik komunikasi teman antar teman, beres. Hehehe… (adik-adik calon perawat yang baik
di rumah, mohon jangan ditiru)
Nah, namanya
juga praktik pendidikan, artinya mau
nggak mau aku harus belajar dan menjalani
praktik di semua stase keperawatan yang jumlahnya sebelas itu (Udah deh, nggak usah minta disebutin sebelas stase itu apa aja.
Pokoknya Ilmu
Keperawatan dibagi menjadi sebelas spesialisasi. Titik!)
Aku sih
senang-senang saja menjalani praktik stase bedah, toh selama ini aku bekerja
di bangsal bedah. Nah, yang paling nggak aku suka adalah stase maternitas. Stase yang mempelajari
sistem reproduksi, kehamilan, melahirkan, nifas, bayi baru lahir dan segala
yang berhubungan dengan itu. Bukannya apa-apa, tapi banyak faktor yang membuat
aku nggak suka dan trauma dengan stase maternitas ini.
Salah satu
faktor utama penyebab rasa
trauma itu adalah gara-gara si Joko.
Ah, si Joko, sahabatku yang kurus hitam mirip dakocan itu. Kesal rasanya harus berbagi nama depan dengannya. Nggak cukup
hanya dengan berbagi nama, kami pun dulu harus berbagi kamar saat masih indekos menjalani proses pendidikan diploma. Aku
dan Joko adalah dua dari tujuh laki-laki yang survive di antara seratus mahasiswi se-angkatan. Sudah bisa
dibayangkan bukan, asal muasal tuduhan heavy
rotation yang digeneralisasikan terhadap
kami para kaum Adam yang minoritas ini.
![]() |
| Dakocan |
Rasa traumaku
pada stase keperawatan maternitas bermula dari kejadian sepuluh tahun yang lalu.
Waktu itu, aku yang satu kelompok dengan Joko saat menjalani praktik pendidikan
di salah satu klinik bersalin, untuk
pertama kalinya menyaksikan secara langsung proses persalinan dengan mata
kepala sendiri. Aku hampir pingsan waktu itu. Selama dua hari berikutnya aku kehilangan
nafsu makan. Rasanya masih terbayang dengan jelas tubuh sang ibu berdarah-darah
dengan liang lahir yang sobek parah. Ugh...
“Suwer Bro, aku nggak doyan makan,”
kataku pada Joko setelah selama dua hari
kehilangan nafsu makan.
Waktu
itu, Joko berhasil memaksa dan menyeretku untuk mendatangi tempat makan malam
favorit kami, warung penyetan Yu Kokom. Seperti biasanya,
warung penyetan Yu Kokom selalu ramai. Tapi nggak
seperti biasanya, aroma sedap sambal terasi buatan Yu Kokom sama sekali nggak menggugah
selera makanku. Aku cuma memandangi menu tempe penyet yang sudah terlanjur dingin di hadapanku.
“Jangan begitu,
kita harus profesional,” jawab Joko sok cool.
“Masa gara-gara lihat darah
aja bikin nggak doyan makan.”
Dasar si Joko, sok
keren. Padahal waktu si pasien melahirkan, dia yang paling lihai melipir di balik gorden dan tiba-tiba
raib melarikan diri.
“Sejujurnya, aku
sih nggak masalah melihat lumuran darah korban kecelakaan lalu lintas, atau pasien yang muntah darah.
Tapi aku nggak sanggup melihat darah ibu melahirkan. Nggak tega, kasihan,”
kataku sambil merogoh recehan dari dalam saku celana untuk pengamen maco alias mantan cowo yang hampir menuju meja makan kami. “Aku masih
ngeri membayangkan si ibu itu. Mungkin kelak aku nggak bakal menghamili
perempuan.”
“Hah? Serius, Bro?” Joko terkekeh. “Hei, Jeng!
Sini!” teriak Joko mengundang pengamen maco
yang sedang khusyuk menirukan Cita Citata -melantunkan lirik
‘Sakit rasanya diputus cinta, bikin kita jadi gegana, gelisah galau merana’-
dengan syahdunya. Pengamen maco itu buru-buru
berhenti bernyanyi mendengar panggilan Joko, kemudian dengan semangat
berlari-lari kecil menuju
meja makan kami. Aku memelototi Joko. Apa lagi yang akan dilakukannya sekarang?
Bulu kudukku merinding.
“Ih, Mas Boi,
jangan panggil Jeng,
ah,” sahut si pengamen maco dengan nada manis memanja yang
sangat nge-bass sambil membelai pundak
Joko menggunakan tangannya yang berotot. “Panggil akika Jamilah,” lanjutnya sambil
mengedip-ngedipkan mata nggak jelas. Aku semakin merinding.
“Ini lho, Jamilah,” kata Joko. Aku
memelototinya lagi. “Temanku ini, gara-gara membantu persalinan pasien, dia
bilang nggak mau menghamili perempuan. Nggak tega katanya,” lanjut Joko
lantang. Aku cepat-cepat berusaha menginjak kaki Joko di bawah meja. Namun sungguh sial, nggak
kena! Joko mengejek dengan menjulurkan lidah.
“Ow, olala syalala, Mas Boi!
Mas Boi cocok nih sama akika.” Jamilah
mulai duduk di sampingku tanpa dipersilahkan. Dia menyodor-nyodorkan dada
silikonnya pada
lenganku. Sumpah, menurutku, paduan antara dada yang menonjol dan menyembul penuh di balik kaos ketat pink
yang dikenakannya dengan bahu yang kekar dan berotot benar-benar absurd. Aku mulai berkeringat dingin
membayangkan dada besarnya itu ditumbuhi rambut lebat.
“Kalau dengan
akika, Mas Boi nggak perlu cemas. Akika mah
di-ini-itu-in sampai ini-itu juga nggak bakal
hamil,” ucap Jamila sambil menggelayuti lenganku. Aku sudah nggak sanggup lagi.
Aku bergegas beranjak, berusaha melepaskan diri dan lari pontang-panting
meninggalkan warung Yu Kokom.
Sialan si Joko! Gara-gara ulahnya, bertambah dua hari lagi aku kehilangan nafsu makan.
*
“Bro, belajar apa untuk ujian praktik?”
tanya Joko membuyarkan lamunanku tentang peristiwa mengerikan dengan pengamen maco sepuluh tahun lalu.
Aku memandang
Joko tanpa minat. Entah terkena karma apa aku, sehingga selalu berjodoh dengan
si Joko ini. Sudah lebih dari satu dekade, kami hampir selalu bersama. Sejak
pertama bertemu di bangku perkuliahan diploma hingga sekarang bekerja di tempat
yang sama, dia terus-terusan mengekori aku. Dia bahkan sekarang juga mengikuti program Profesi Ners yang sama denganku. Nahasnya,
kalau kami sedang berdua, biasanya aku yang lebih sering tertimpa sial.
“Nggak belajar.
Malas,” jawabku santai. “Lagian materi ujiannya kan diundi. Percuma belajar, kita
juga nggak tahu,
ujian apa yang bakal
keluar.”
Ya, kurang dari
setengah jam lagi, kami akan menjalani ujian praktik akhir tahun, serangkaian
ujian berbagai stase ilmu keperawatan yang nantinya akan diundi satu saja untuk
diikuti. Kali ini, pengujinya bukan main-main, para ahli di bidangnya yang
ditunjuk oleh kampus dari berbagai rumah sakit. Persiapanku sih hanya satu, berdoa.
Semoga aku mendapat undian ujian selain keperawatan maternitas. Fiuuh…
Sepuluh menit
menjelang ujian, ketiga puluh mahasiswa peserta ujian, termasuk aku dan Joko
dipersilahkan untuk mengambil undian ujian. Joko mendapat jatah ujian stase
bedah dan betapa irinya aku. Perlahan aku membuka undian yang kuambil dan alamaaak… stase maternitas! Tuhan!
Kenapa?! Dari sebelas stase yang ada, kenapa maternitas, stase yang paling nggak
kukuasai justru menjadi ujianku?
Joko
menertawakan nasibku sebelum akhirnya berlalu memasuki ruang ujian stase bedah.
Sialan Joko! Beruntung benar
nasibnya. Aku berusaha menarik napas panjang. Semoga saja pengujiku kali ini
bisa diajak sedikit kongkalingkongkingkong untuk meluluskanku.
Aku berlalu memasuki ruang ujian stase maternitas.
“Permisi,” aku
mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan.
“Silahkan masuk,
Joko Raisanto.”
Suara seorang
perempuan yang kukenal terdengar mengagetkan dari dalam ruang ujian. Aku
buru-buru masuk dan memastikan siapa pemilik suara itu. Nggak salah lagi, Diana! Oh Tuhan! Diana! My first and everlasting love!
“Lama nggak
ketemu ya,” sapa Diana. “Nggak terasa sudah sepuluh tahun,” lanjutnya sambil
melemparkan senyuman manis ala Lady Di (ah, senyum Diana yang ala
senyum nyokapnya Prince William dan Prince Harry ini memang paling top
markotop).
![]() |
| Lady Di (nyokapnya Prince William dan Prince Harry) |
Aku masih hanya terdiam. Masih berdiri terpaku dengan mata
terbelalak dan mulut menganga mirip ikan koi yang tepar karena kena sawan. Aku masih
nggak percaya dengan apa yang kulihat. Di
hadapanku ada Diana yang duduk sambil tersenyum manis. Si cantik, mahasiswi
akademi kebidanan yang aku puja-puja sejak dulu. Nggak, sekarang dia sudah
bukan mahasiswi lagi, melainkan penguji ahli. Oh Tuhan, dia masih tetap cantik!
*
Ah, aku jadi
teringat lagi, sehari setelah peristiwa rayuan pengamen maco itu, Joko berulah lagi dengan menceritakan secara heboh hal
yang menimpaku kepada orang-orang se-antero klinik bersalin tempat kami praktik.
Diana yang akademi kebidanannya juga sedang praktik di klinik bersalin yang
sama dengan akademi keperawatanku turut terkekeh mendengar cerita lebay Joko. Sialan Joko!
“Nggak perlu cemas Mas Raisa,” ucap Diana waktu
itu. “Meskipun pasti sakit, tapi melahirkan adalah naluri perempuan. Perempuan
itu makhluk kuat.” Diana tersenyum padaku. Ah, senyum Diana. Aku langsung jatuh
cinta padanya waktu itu.
Sebelum aku dan Diana
berpisah sepuluh tahun yang lalu karena Diana harus pindah tempat praktik, aku
nekad memberanikan diri untuk nembak dia.
“Mas Raisa ada riwayat keluarga
berketurunan anak kembar?” Diana balik bertanya saat kutanya apa dia mau jadian
denganku.
Aku sudah
mendengar rumor dari Joko beberapa waktu sebelumnya. Usut punya usut, Diana
sangat terobsesi menginginkan anak kembar. Baginya, pacaran memiliki tujuan
yang jelas, yaitu menikah dan punya anak. Alhasil, untuk berpacaran dengannya,
otomatis seseorang harus memenuhi satu syarat, memiliki darah genetik
berketurunan kembar.
“Ada,” jawabku
spontan.
“Oh ya?! Dari pihak
siapa?” Diana tampak bersemangat.
“Emm…”
“Mmm?”
“Kakek Adam dan
Nenek Hawa?” jawabku ragu-ragu.
Berikutnya, yang
terjadi adalah aku ditolak mentah-mentah. Itulah terakhir kali aku bertemu Diana.
Kalau tante Tetty Kadi -penyanyi kesukaan emak- bilang, ‘kuncup di hatiku... yang lama kusimpan... hancur kini... sebelum
berkembang... ah...’.
![]() |
| Salah satu Album Tetty Kadi koleksi Emak |
*
“Lakukan
pemeriksaan fisik ibu dengan usia kandungan trimester ketiga,” ucap Diana
membuyarkan lamunanku. Sial, aku kebanyakan melamun sampai lupa sedang ujian!
Aku berusaha stay cool dan sok tenang meski sebenarnya
otakku serasa sedang berceceran entah dimana. Pikiranku morat-marit. Aku begitu senang, tapi juga gusar melihat Diana. Apa Diana
sudah menikah? Apa dia sudah punya anak kembar sesuai harapannya? Argh…!!! Ayolah Raisa, fokus ujian!
Aku mendekati
manekin boneka ibu hamil yang terbaring di atas tempat tidur. Di sebelahnya
terdapat baki berisi instrumen pemeriksaan fisik. Aku berusaha mengumpulkan ceceran
otakku. Aku mulai mempergunakan intrumen
yang tersedia satu per satu
sesuai dengan apa yang bisa kuingat dari buku yang selama ini selalu kuabaikan
di perpustakaan.
Aku mulai
menekan-nekan lembut manekin perut pasien, melakukan pemeriksaan posisi janin
dalam perutnya. Aku kemudian juga menggunakan alat pengukur untuk mengukur TFU3.
“Hasilnya?”
Suara lembut Diana mengusik konsentrasiku.
“Err… Posisi
janin normal, punggung janin di sisi perut ibu sebelah kiri, kaki dan tangan di
sisi perut kanan ibu. Posisi kepala janin sudah sesuai. TFU 32 cm, normal.”
Selanjutnya aku
menempelkan fetoscope4
pada manekin perut pasien dan menempelkan
telingaku pada sisi yang lain untuk mendengar detak jantung janin. Aku mulai
berpura-pura menghitung sambil mengawasi jam tanganku.
“Denyut jantung
janin 144 kali/menit. Normal.” Aku melirik wajah Diana. Sejauh ini sepertinya
yang kulakukan sudah benar. Hal itu terlihat dari wajah Diana yang
manggut-manggut.
Ternyata nggak
sesulit perkiraanku. Apa berikutnya?
Senter? Aku melihat sebuah senter kecil di atas baki. Satu-satunya alat
yang belum kugunakan.
Aku meraihnya sambil terus memutar otak, berusaha membolak-balikkan
halaman-halaman buku perpustakaan dalam otakku yang sebenarnya belum pernah
kubaca. Untuk apa senter ini?
Nggak banyak
waktu yang tersisa dan aku belum mampu mengingat apa fungsi senter itu. Tanpa
membuang waktu lagi, aku menyalakan senter itu dengan tangan kananku, menyibak
rok manekin pasien dengan tangan kiriku, lalu mengarahkan sorot lampu senter ke
arah liang lahir pasien. Aku mendengar Diana terkikik pelan. Sial, apa yang aku
lakukan? Salah, ya?
“Hasilnya?” tanya
Diana masih terkikik.
“Emm…”
“Mmm?”
“Jalan lahir ada.
Normal.” Aku memaksakan nyengir kuda di hadapan Diana. Aku bisa merasakan panas
di wajahku. Pastilah sekarang mukaku merah tak karuan. Diana terkikik lagi.
Sesaat kemudian alarm
tanda waktu telah habis berbunyi dan aku bergegas meninggalkan ruangan dipenuhi
perasaan malu. Diana menertawaiku. Huwaa…!
*
“Gimana Bro?” sapa Joko yang sudah menantiku di
luar ruang ujian. “Konyol banget ya ujiannya. Sok-sokan ngasih alat jebakan
segala. Masa ada fetoscope untuk
memeriksa pasien bedah? Aku ngakak-lah
di dalam.”
“Hah? Alat
jebakan?” napasku tercekat. Aku mendelosor
terjongkok lemas di lantai. Senternya...
senternya adalah jebakan! Kenapa aku menggunakan senternya?! Untuk menyoroti liang lahir pula?!
Dan kulakukan di depan Diana?! Aku beringsut mendekati dinding di depanku
untuk menjedut-jedutkan kepalaku di sana. Betapa
bodohnya aku!
“Diana!” seru
Joko melihat sosok perempuan yang tiba-tiba keluar dari pintu yang sama
denganku dan sekarang berdiri di belakangku. Aku nggak berani membalikkan tubuh
atau menunjukkan wajahku. Benar-benar konyol! Aku malu!
“Eh, Mas Joko, kan?
Apa kabar?” sapa suara Diana lembut. Aku yang kelewat malu, pura-pura sok sibuk
dengan isi tasku yang sebenarnya nggak ada isinya.
“Kabar baik.
Masih seperti dulu, aku dan temanku yang satu ini masih sama-sama joko5 (Red: Jejaka
Gegana). Ahaha,” tawa Joko menggelegar di lobi
laboratorium. Dasar gila si Joko! Mengumbar sesuatu yang nggak penting
seenaknya sendiri.
“Wah, syukur
kalau begitu. Em, kalau begitu boleh minta tolong sesuatu?” tanya Diana
ragu-ragu.
“Minta tolong
apa, Diana?” tanya Joko penuh semangat.
“Tolong
sampaikan pada teman mas Joko yang masih sama-sama joko itu,” ucap Diana
terdengar malu-malu. Aku memasang telinga, penasaran dengan permohonan Diana
yang berhubungan denganku itu. “Tolong sampaikan padanya, kalau aku sudah nggak
terlalu peduli punya anak kembar atau nggak.”
Aku terlonjak
berdiri nggak percaya. Aku membalikkan badan dan memandang wajah Diana yang
tersenyum penuh makna padaku. Oh Tuhan, kalau Engkau hendak memberikan
kebahagiaan ini untuk hamba, mengapa Engkau sertai dengan tragedi memalukan
terlebih dahulu segala sih? Ah, tapi thank
God, anyway. Aku dan Diana sesekali saling curi pandang dan masih sama-sama
tersipu malu. Saat itu, dunia serasa milik kami berdua, sedangkan Joko kami
anggap tak lebih dari sebatang singkong
mirip dakocan yang berdiri di sana. Ah, rasanya ingin
kusampaikan pada tante Tetty Kadi -penyanyi kesukaan emak-, kuncup di hatiku
yang telah lama layu, kini akhirnya berkembang.
**Fin**
Catatan kaki:
1. Heavy metal adalah sebuah aliran musik rock
yang pada umumnya memiliki lirik yang berkaitan
dengan maskulinitas
dan kejantanan.
2. Heavy rotation
adalah sebuah judul lagu yang dipopulerkan oleh kelompok girlband AKB48 dan sister
group-nya NMB48, SKE48, HKT48 termasuk JKT48, yang berada di Indonesia.
Sesuai dengan nama grupnya, rata-rata girlband
dan sister group-nya ini masing-masing
terdiri dari kurang lebih 48 personil gadis muda. (busyeet dah, 48 cyiiin...!)
3. TFU atau Tinggi
Fundus Uteri, yaitu nilai puncak tertinggi rahim sesuai usia kehamilan yang
gunanya untuk memperkirakan taksiran usia dan berat badan janin.
4. Fetoscope adalah sebuah
stetoskop janin yaitu stetoskop akustik berbentuk seperti terompet untuk
mendengarkan bunyi jantung janin.
5. Joko adalah salah satu nama yang sering digunakan
sebagai nama anak laki-laki suku Jawa. Joko sendiri dalam bahasa Jawa memiliki
arti perjaka/jejaka (tapi belum tentu gegana lho ya...)
****
Tanya jawab behind the scene, eh, behind
the script denk...
Pembaca:
“Iuh, penulisnya ngaco. Masa si Jamilah bisa-bisanya nyanyiin lagu Cita Citata.
Itu kan cerita flashback sepuluh tahun yang lalu. Cita Citata belum
tenar keless. Logika ceritanya dimana?”
Penulis:
“Ish.. ya udah sih. Anggap aja si Jamilah adalah mahluk masa depan yang
berperjalanan astral ke masa lalu. Lagian juga ini kan cerita komedi, nggak
usah terlalu mikirin logika cerita, ‘kay?”
(Padahal aslinya penulis emang baru menyadari
kejanggalan cerita setelah berulang kali membaca tulisannya. Tapi yang namanya ngeles emang
lebih gampang daripada mengaku salah. Behahahahahaha...!!!)
Nb: Sekelumit cerpen fiktif ini dipersembahkan
untuk para Pejoeang Aneka tercinta.. Para member Diklat Prabajatan CPNS Kemenkes
Golongan III Angkatan 2 tahun 2015 Bapelkes Semarang Salaman.






Wuahahahahahahaha... tq 'britama'nis... km benar2 mirip "papa" mu 😂😂😂😂
BalasHapusLucukk! Jadi ngefans >.<
BalasHapusPingin deh bisa nulis kaya mbak briti..tp apalah aku cuma sepotong singkong yg mirip dakocan T_T
wkwkwkwkk
Ngakak sumpah 🤣🤣🤣🤣
BalasHapus