Waktu
berlalu begitu cepat. Aku masih ingat, enam belas tahun yang lalu, aku
ditinggal pergi oleh Mbah Uti-ku untuk selama-lamanya. Saat itu, Mbah Kakung-ku
merangkulku. Hanya aku, dari sekian banyak cucu yang ada. Di hadapan jenazah
Mbah Uti, Mbah Kakung mengatakan sesuatu untuk menghiburku.
“Nduk,
Mbah Uti sudah dijemput oleh Tuhan. Mbah Uti sekarang berbahagia di rumah Tuhan.
Makanya kamu jangan menangis.”
Meskipun
Mbah Kakung berkata padaku agar tidak menangis, kenyataannya saat itu beliau
pun menangis bersamaku.
Enam
belas tahun benar-benar berlalu begitu cepat. Kini tiba giliran
Mbah Kakung yang pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Dan kali ini tidak
ada lagi sosoknya yang merangkulku. Di hadapan jenazah Mbah Kakung, aku
menangis seorang diri.
Hari
itu, Kamis tanggal 13 Februari 2014 pukul 18.25 WIB, di tempat tidurnya, Mbah
Kakung menghembuskan nafas terakhirnya. Bukan suatu yang mengagetkan seharusnya.
Sebagai seorang perawat, aku sudah bisa memperkirakan bahwa tidak akan ada banyak
waktu untuk Mbah Kakung bertahan. Prognosis-nya terlalu buruk. Meski begitu,
tetap saja mengetahui Mbah Kakung tak lagi bernafas membuatku kaget dan
menangis.
Ah,
Mbah Kakung, rasanya baru seperti pagi ini aku menyuapimu sarapan, lalu kau
merespon masakan yang kumasak dengan acungan jempol. Apapun yang kuhidangkan
sebagai menu santapmu, kau akan mengatakan, “This is number one.” Ah, betapa
Mbah Kakung senang sekali menggunakan bahasa asing untuk mengungkapkan sesuatu.
Kadang Bahasa Inggris, kadang juga Bahasa Belanda. Sungguh hebat Mbah Kakungku,
masih mampu berbahasa asing meski telah dihinggapi dimensia berat.
Ya,
Mbah Kakungku memanglah begitu hebat. Begitu besar perjuangannya untuk Negeri
Indonesia ini. Perang apapun pernah diikutinya. Berbagai perang yang dulu aku
pelajari di Buku Sejarah ketika SMP dan SMA, semua pernah dialaminya. Tak heran
jika berbagai penghargaan militer diberikan atas namanya.
- Surat Tanda Jasa Pahlawan Bintang Gerilya dari Presiden RI Soekarno
- Satya Lancana Peristiwa Aksi Militer I/ Agresi Militer I dari Menteri Pertahanan Juanda
- Satya Lancana Peristiwa Aksi Militer II/ Agresi Militer I dari Menteri Pertahanan Juanda
- Satya Lancana Kesetiaan I dari Menteri Pertahanan Juanda
- Satya Lencana Kesetiaan II dari Menteri Keamanan Nasional A. H. Nasution
- Satya Lancana Gerakan Operasi Militer (GOM) I dari Menteri Pertahanan Juanda
- Satya Lancana Gerakan Operasi Militer (GOM) II dari Menteri Pertahanan Juanda
- Satya Lancana Gerakan Operasi Militer (GOM) III dari Menteri Pertahanan Juanda
- Satya Lancana Gerakan Operasi Militer (GOM) IV dari Menteri Pertahanan Juanda
- Satya Lancana Gerakan Operasi Militer (GOM) V dari Menteri Pertahanan Juanda
- Satya Lancana Sapta Marga dari Menteri Pertahanan Juanda
- Satya Lancana Gerakan Operasi Militer (GOM) VI dari Menteri Pertahanan Juanda
- Medali Sewindu Angkatan Perang Republik Indonesia dari Menteri Pertahanan Mr. Ali Sastroamijoyo
- Satya Lancana Penegak dari Menteri Pertahanan Keamanan Soeharto
Selamat jalan Mbah Kakung. Semoga perjuanganmu untuk bangsa ini akan terus mengilhami kami yang kau tinggal pergi. Semoga aku, cucu yang kau tinggal ini mampu melestarikan dan meneruskan hal-hal baik yang kau perjuangkan. Karena lebih dari sekedar acara brobosan (melintas di bawah jenazahmu), itulah sesungguhnya inti dari mendem jero lan mikul duwur.
~Karanganyar, 24 Februari 2014~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar