Senin, 24 Februari 2014

Selamat Jalan Pahlawan



Waktu berlalu begitu cepat. Aku masih ingat, enam belas tahun yang lalu, aku ditinggal pergi oleh Mbah Uti-ku untuk selama-lamanya. Saat itu, Mbah Kakung-ku merangkulku. Hanya aku, dari sekian banyak cucu yang ada. Di hadapan jenazah Mbah Uti, Mbah Kakung mengatakan sesuatu untuk menghiburku.
“Nduk, Mbah Uti sudah dijemput oleh Tuhan. Mbah Uti sekarang berbahagia di rumah Tuhan. Makanya kamu jangan menangis.”
Meskipun Mbah Kakung berkata padaku agar tidak menangis, kenyataannya saat itu beliau pun menangis bersamaku.
Enam belas tahun benar-benar berlalu begitu cepat. Kini tiba giliran Mbah Kakung yang pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Dan kali ini tidak ada lagi sosoknya yang merangkulku. Di hadapan jenazah Mbah Kakung, aku menangis seorang diri.
Hari itu, Kamis tanggal 13 Februari 2014 pukul 18.25 WIB, di tempat tidurnya, Mbah Kakung menghembuskan nafas terakhirnya. Bukan suatu yang mengagetkan seharusnya. Sebagai seorang perawat, aku sudah bisa memperkirakan bahwa tidak akan ada banyak waktu untuk Mbah Kakung bertahan. Prognosis-nya terlalu buruk. Meski begitu, tetap saja mengetahui Mbah Kakung tak lagi bernafas membuatku kaget dan menangis.
Ah, Mbah Kakung, rasanya baru seperti pagi ini aku menyuapimu sarapan, lalu kau merespon masakan yang kumasak dengan acungan jempol. Apapun yang kuhidangkan sebagai menu santapmu, kau akan mengatakan, “This is number one.” Ah, betapa Mbah Kakung senang sekali menggunakan bahasa asing untuk mengungkapkan sesuatu. Kadang Bahasa Inggris, kadang juga Bahasa Belanda. Sungguh hebat Mbah Kakungku, masih mampu berbahasa asing meski telah dihinggapi dimensia berat.
Ya, Mbah Kakungku memanglah begitu hebat. Begitu besar perjuangannya untuk Negeri Indonesia ini. Perang apapun pernah diikutinya. Berbagai perang yang dulu aku pelajari di Buku Sejarah ketika SMP dan SMA, semua pernah dialaminya. Tak heran jika berbagai penghargaan militer diberikan atas namanya.
  1. Surat Tanda Jasa Pahlawan Bintang Gerilya dari Presiden RI Soekarno 
  2. Satya Lancana Peristiwa Aksi Militer I/ Agresi Militer I dari Menteri Pertahanan Juanda
  3. Satya Lancana Peristiwa Aksi Militer II/ Agresi Militer I dari Menteri Pertahanan Juanda
  4. Satya Lancana Kesetiaan I dari Menteri Pertahanan Juanda
  5. Satya Lencana Kesetiaan II dari Menteri Keamanan Nasional A. H. Nasution
  6. Satya Lancana Gerakan Operasi Militer (GOM) I dari Menteri Pertahanan Juanda
  7. Satya Lancana Gerakan Operasi Militer (GOM) II dari Menteri Pertahanan Juanda
  8. Satya Lancana Gerakan Operasi Militer (GOM) III dari Menteri Pertahanan Juanda
  9. Satya Lancana Gerakan Operasi Militer (GOM) IV dari Menteri Pertahanan Juanda
  10. Satya Lancana Gerakan Operasi Militer (GOM) V dari Menteri Pertahanan Juanda
  11. Satya Lancana Sapta Marga dari Menteri Pertahanan Juanda
  12. Satya Lancana Gerakan Operasi Militer (GOM) VI dari Menteri Pertahanan Juanda
  13. Medali Sewindu Angkatan Perang Republik Indonesia dari Menteri Pertahanan Mr. Ali Sastroamijoyo 
  14. Satya Lancana Penegak dari Menteri Pertahanan Keamanan Soeharto
Serta berbagai penghargaan lain yang sayangnya tidak tersimpan dengan baik.
Selamat jalan Mbah Kakung. Semoga perjuanganmu untuk bangsa ini akan terus mengilhami kami yang kau tinggal pergi. Semoga aku, cucu yang kau tinggal ini mampu melestarikan dan meneruskan hal-hal baik yang kau perjuangkan. Karena lebih dari sekedar acara brobosan (melintas di bawah jenazahmu), itulah sesungguhnya inti dari mendem jero lan mikul duwur.


~Karanganyar, 24 Februari 2014~
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar